Popular Post

Copycat, Tiruan Sang Idola

Anda mengenal istilah copycat? Istilah tersebut diambil dari perilaku anak kucing yang meniru perilaku induknya. Copycat didefinisikan sebagai perilaku seseorang yang menyerupai orang lain.  Seringkali copycat berarti negatif karena sering juga diartikan sebagai menjiplak. Berbeda dengan copycat, istilah role model atau idola memiliki arti lebih positif. Nyatanya, sosok idola memiliki faktor penting dalam menentukan rasa percaya diri seseorang. Profesor Lauren Steinberg dari Fakultas Psikologi Temple University dan penulis buku Beyond the Classroom mengatakan, rasa percaya diri dapat didefinisikan sebagai cara seorang individu beranggapan tentang dirinya sendiri.
Percaya diri juga dipandang sebagai perbedaan antara diri yang sebenarnya dengan sosok ideal. Hal itu diungkapkan Unnia L. Pettus, PhD, pengajar public relations sebagai asisten profesor di Howard University, sekaligus pemilik perusahaan Pettus & Associates.
“Jika seseorang semakin menyerupai sosok ideal yang diingingkannya, mereka cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi”, ujar Pettus.
Profesor Susan Harter dari Fakultas Psikologi Denver University mengatakan, penerimaan yang tidak konsisten antara seseorang yang sebenarnya dan konsep diri yang ideal adalah penting. Ini karena kegagalan mencapai hal yang ideal dapat mengakibatkan sesuatu yang negatif.
Salah satu ciri sosok idola yang akan memengaruhi rasa percaya diri seseorang adalah jenis kelamin sosok idola tersebut. Hasil penelitian Jan M. Ochman dari Fakultas Psikologi Inver Hills Community College Amerika Serikat mengungkapkan, sosok idola dari jenis kelamin yang sama oleh seseorang kemungkinan akan berdampak lebih positif terhadap rasa percaya diri dibandingkan dengan sosok idola yang berbeda jenis kelamin.
Penelitian yang laporannya telah dipublikasikan dalam buku The Effect of Nongender-role Stereotyped, Same-sex Role Models in Storybooks on The Self-esteem of Children in Grade Three, menemukan bahwa anak-anak kelas tiga sekolah dasar memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi dengan sosok idola yang berjenis kelamin sama dibandingkan berbeda jenis kelamin.
Penemuan serupa ditemukan dalam studi yang dilakukan oleh Hackett, Esposito, dan O’halloran yang bertajuk “The Relationship of Role Model Influences to The Career Salience and Educational and Career Plans of College Women”. Studi ini menemukan, kehadiran sosok idola berjenis kelamin sama diasosiasikan dengan rasa percaya yang lebih tinggi di antara wanita usia perguruan tinggi dan memperkirakan pilihan karier serta karier yang tidak biasa dipilih wanita.
Praktisi bidang pengembangan kepribadian sekali dosen Fakultas Psikologi Universitas Pancasila Okky Asokawati mengatakan, pada setiap masa perkembangannya, manusia membutuhkan sosok idola sebagai inspirator atau role model.
“Mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Semua orang membutuhkan idola, fungsinya semacam guidance atau pedoman dalam berprilaku,” ujar Okky dalam peluncuran Natur-E Women’s Moment di Jakarta, beberapa waktu lalu. Dia menuturkan, berbicara mengenai inspirasi bagi seseorang, sama halnya membicarakan mengenai proses pencapaian diri. Dalam proses tersebut, seseorang perlu memiliki tokoh panutan atau inspirator.